Rabu, 30 November 2016

Adu Nasib dari Palmerah ke Warung Buncit

Sebenarnya saya enggak mau berkeluh kesah atau curhat tentang pekerjaan. Tapi keadaan mendesak saya. Bukan mau pamer atau menjelek-jelekkan salah satu pihak. Juga bukan ingin bersedih-ria untuk menarik simpati pembaca.

Ya, kehidupan yang berubah. Bukan hanya kehidupan saya, tapi juga kehidupan keluarga saya, anak-istri saya. Wajar kan jika seseorang tidak akan pernah puas atas apa yg sudah didapatkannya. Itu manusiawi. Bukan berarti tidak bersyukur.

Saya bersyukur memiliki pengalaman selama delapan tahun bekerja di dua perusahaan besar. Saya juga bersyukur bisa memiliki penghasilan untuk menafkahi diri dan keluarga saya. Tapi, dengan kondisi usia pengalaman dan jam terbang saya dalam pekerjaan itu, saya merasa harus ada yang berubah, baik dari sisi pendapatan maupun kualitas hidup saya dan keluarga.

Tak lama lagi saya akan meninggalkan tempat kerja saya yang sekarang. Tempat saya mendapatkan banyak ilmu, "pelatihan mental", dan atmosfer kerja yang memberi aneka warna tentang dunia edit-mengedit yang menghiasi pengalaman saya.

Di tempat kerja saya yang baru nanti, mungkin pekerjaannya, durasi kerjanya, serta tekanannya tidak jauh berbeda dengan suasana tempat kerja saya yang lama ini. Karena memang sama-sama bergerak di bidang jurnalistik/media massa.

Ketika ditawari teman untuk bekerja di tempat yang baru nanti, saya langsung mengiyakan, tanpa pikir panjang. Entah kenapa, semua itu berjalan begitu saja. Dulu saya pernah diberi tawaran serupa, tapi batal. Pikir saya, "Ya sudah, mungkin belum saatnya."

Kesabaran itu pun berbuah, saya kembali ditawari pekerjaan tersebut oleh teman saya itu dan "tampaknya" memang serius. Saya pun mengikuti semua tahapan sampai akhirnya selembar kertas berisi penjanjian kontrak saya tandatangani. Dan saya harus bersiap pula dengan segala konsekuensi.

Hidup di Ibu Kota itu keras, dan kita harus menghadapinya dengan keras juga.

Semoga saja di tempat baru nanti, kehidupan saya benar-benar berubah, baik dalam hal finansial maupun kualitas rumah tangga saya.


--Palmerah, 30 November 2016--

Rabu, 23 November 2016

Balada Ormas yang Bikin Gemas


Jujur saja, saya kurang tertarik terhadap dunia politik, apalagi perpolitikan di Indonesia, negara yang saya huni. Tapi, melihat karut-marutnya suasana politik itu, terutama berkaitan dengan hiruk-pikuk pemilihan kepala daerah di negeri ini, saya menjadi geregetan dan tak kuasa menahan pendapat untuk membungkam orang-orang yang mementingkan kelompoknya dengan beralaskan agama.

Bagaimana tidak geregetan, segelintir organisasi massa Islam seenaknya membawa agama untuk memaksakan kehendak ingin memenjarakan orang. Mending kalau cuma itu. Mereka juga menyisipkan kata-kata sarkastik, bahkan menyebutkan nama binatang, untuk menghina orang yang mereka anggap menista agama.

Saya, meskipun muslim, sangat mual melihat perilaku mereka. Apalagi mengatasnamakan agama dan TUHAN. Tidak sepantasnya seorang pemeluk Islam, yang setahu saya agama yang damai, bertindak dan berkelakuan seperti itu. Sangat tidak menyejukkan.

Saya memang sedari dulu tak menyukai satu ormas Islam yang satu ini--sebut saja FPI--terutama pemimpinnya. Mereka lebih banyak berlaku kasar dan ugal-ugalan ketimbang bersikap tegas tapi lembut, sebagaimana yang saya ketahui tentang sifat Nabi Muhammad terhadap sesama umat Tuhan.

Rekam jejak mereka pun tak ada yang mencerahkan. Justru sering membuat hati masyarakat cemas akan sikap mereka.

Kalau ingin membela agama, berdakwalah dengan cara yang positif dan persuasif. Bukan dengan memicu emosi dan bertindak arogan. Apalagi membuat suasana semakin panas dan tidak terkendali.

Soal ada "aktor" yang menunggangi atau mengendalikan mereka, itu hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Saya tidak mau mengira-ngira, atau bahkan menuduh. Dikendalikan atau tidak, saya pun tetap tidak hormat terhadap ormas tersebut, kecuali mereka mengubah sikap dan perilakunya.

Saya hanya merindukan kelompok masyarakat yang menghargai keberagaman dan tidak merugikan banyak pihak. Sebab, Indonesia lahir berkat orang-orang yang beraneka "rasa", bukan yang selalu melontarkan isu SARA.

Senin, 06 Juni 2016

Selamat Datang, Ramadan



Alhamdulillah, Ramadan telah menghampiri umat Islam di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Waktu terasa cepat sekali berlalu. Serasa baru beberapa bulan yang lalu umat Islam menjalankan ibadah puasa, kini Ramadan kembali datang dengan suasana yang tenang.

Untuk kedua kali, saya menjalankan ibadah puasa bersama istri dan anak, meskipun kedua belahan hati saya itu belum bisa sepenuhnya berpuasa. Istri yang masih menyusui dan anak yang belum genap 2 tahun. Tiap tahun pasti ada saja yang berbeda dalam Ramadan yang saya jalani. Dari berpuasa bersama istri, berpuasa bersama anak, sampai--tahun ini--berpuasa di tempat tinggal yang baru, yaitu kontrakan :).

Sayang, hari pertama puasa, saya tidak bisa berbuka di rumah, bahkan sampai hari keempat. Tapi itu tak menjadi alasan saya tidak bersemangat menjalankan ibadah di bulan yang penuh berkah ini.

Menjalankan puasa sebagai suami dan ayah tentu tidak ringan, terlebih tinggal terpisah dari orang tua/mertua, karena tidak ada lagi yang membantu mengasuh anak kami. Perasaan campur aduk menggenangi benak saya, pastinya, sampai 29 hari ke depan. Senang, kesal, geregetan, semua bakal menjadi satu. Apalagi punya anak yang masih aktif-aktifnya membuat lelah orang tua :).

Hal lain yang, sayangnya, akan saya lewatkan pada Ramadan kali ini adalah tarawih berjemaah di musala. Pasalnya, pekerjaan yang saya lakoni tak memungkinkan untuk menyempatkan diri salat tarawih berjemaah di musala/masjid sepenuh bulan Ramadan ini. Itu pun sudah terjadi beberapa tahun terakhir, bukan tahun ini saja. Tapi sebisa mungkin saya sempatkan beberapa hari menjalani ibadah yang hanya ada saat Ramadan itu.

Yang terpenting, Ramadan tahun ini bisa saya lalui dengan lancar, puasa yang penuh selama sebulan, selalu berbuat kebajikan, tak pernah lupa beramal, serta sering-sering berdoa agar diberi kemudahan dalam urusan apa pun.

Tak lupa saya ucapkan untuk umat Islam di seluruh Indonesia, juga di seluruh dunia: "Selamat menjalankan ibadah puasa."




6 Juni 2016

Jumat, 27 Mei 2016

Pindahan ke Rumah Kontrakan


Minggu, 22 Mei 2016. Hari itu, hari yang cukup nekat buat saya dan keluarga kecil saya pindah ke rumah kontrakan sekaligus menyatakan bahwa kami telah berpisah dari orang tua/mertua untuk tinggal sendiri dan membangun rumah tangga secara mandiri.

Sebuah keputusan yang cukup berat harus saya ambil dengan menimbang berbagai alasan, masukan, risiko, juga manfaat agar kami bisa menghadapi apa pun yang terjadi nanti. Saya tidak bisa menjelaskan secara detail apa saja yang menjadi alasan kami untuk pindah. Intinya, ketika kita sudah punya kehidupan rumah tangga sendiri, terlebih memiliki anak, sebaiknya memang sudah tidak tinggal bersama orang tua lagi demi menghindari atau paling tidak meminimalkan "dosa-dosa" kami terhadap orang tua ketika kami masih harus tinggal bersama.

Kurang-lebih satu minggu saya dan istri berkeliling kelapa dua untuk mencari hunian kontrakan yang minimal mendekati ideal. Kriteria "mendekati ideal" itu meliputi harga sewa yang masih terjangkau kantong saya, lingkungan yang bersahabat, sanitasi yang baik, dan perlindungan yang optimal dari hujan dan panas, biar uang yang kami keluarkan untuk membayar kontrakan tidak sia-sia.

Kenapa di rumah kontrakan? Kenapa tidak rumah sendiri? Banyak yang bertanya dan membahas soal itu. Sebagai buruh biasa, gaji saya selama sebulan belum bisa terkumpul untuk bisa membeli rumah idaman kami. Apalagi pencari nafkah di keluarga kami cuma saya, sebagai kepala bahtera. Tapi saya percaya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selama kita masih percaya dan selalu berdoa kepada Allah.



Rumah dengan harga "miring" sekarang pun jarang sekali yang aksesnya strategis. Sebagian besar berlokasi di luar Jakarta, bahkan di pelosok, yang letaknya tidak pernah diketahui sebelumnya.

Balik lagi ke soal kontrakan, kira-kira waktu yang kami habiskan dari mencari sampai akhirnya ketemu dan menghuni rumah kontrakan itu 2-3 minggu. Fisik dan psikis cukup terkuras.

Dengan pindahnya kami ke rumah kontrakan, tentu ada yang pro dan ada yang kontra. Orang yang pro beralasan, memang sebaiknya "misah" dari orang tua setelah berumah tangga agar bisa mandiri dan tidak banyak konflik. Sedangkan yang kontra mengatakan, daripada mengontrak, lebih baik beli rumah atau sementara tinggal di rumah orang tua supaya duit terkumpul untuk membeli rumah sendiri.


Saya menepikan argumen pihak yang kontra dengan banyak pertimbangan. Hidup berumah tangga dengan kondisi tinggal bersama orang tua/mertua tidak selamanya nyaman atau lebih baik. Banyak pertimbangan yang harus saya jadikan perisai demi keluarga saya. Mungkin terdengar idealistis, tapi ketika kita menghadapinya sehari-hari, itu bisa berubah menjadi realistis.


Saya mencoba menghadapi kemandirian saya dan keluarga dengan penuh perjuangan, kesabaran, dan ketakwaan. Saya percaya, Allah selalu membantu hamba-Nya yang berusaha, apalagi membantu kepala keluarga seperti saya yang berjuang melindungi dan menghidupi keluarga dengan keringat sendiri.

Semoga, langkah kami tinggal di rumah kontrakan menjadi jalan menuju rumah kami yang sebenarnya kelak.








Gambar di atas adalah kondisi rumah kontrakan yang baru kami huni, mulai dari teras hingga bagian dapur/kamar mandi. Sebenarnya ada 6 bagian, yakni teras, ruang tamu, ruang tidur, ruang lemari baju/semi dapur/tempat solat, dapur/kamar mandi, dan teras belakang.



27 Mei 2016