Senin, 06 Juni 2016

Selamat Datang, Ramadan



Alhamdulillah, Ramadan telah menghampiri umat Islam di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Waktu terasa cepat sekali berlalu. Serasa baru beberapa bulan yang lalu umat Islam menjalankan ibadah puasa, kini Ramadan kembali datang dengan suasana yang tenang.

Untuk kedua kali, saya menjalankan ibadah puasa bersama istri dan anak, meskipun kedua belahan hati saya itu belum bisa sepenuhnya berpuasa. Istri yang masih menyusui dan anak yang belum genap 2 tahun. Tiap tahun pasti ada saja yang berbeda dalam Ramadan yang saya jalani. Dari berpuasa bersama istri, berpuasa bersama anak, sampai--tahun ini--berpuasa di tempat tinggal yang baru, yaitu kontrakan :).

Sayang, hari pertama puasa, saya tidak bisa berbuka di rumah, bahkan sampai hari keempat. Tapi itu tak menjadi alasan saya tidak bersemangat menjalankan ibadah di bulan yang penuh berkah ini.

Menjalankan puasa sebagai suami dan ayah tentu tidak ringan, terlebih tinggal terpisah dari orang tua/mertua, karena tidak ada lagi yang membantu mengasuh anak kami. Perasaan campur aduk menggenangi benak saya, pastinya, sampai 29 hari ke depan. Senang, kesal, geregetan, semua bakal menjadi satu. Apalagi punya anak yang masih aktif-aktifnya membuat lelah orang tua :).

Hal lain yang, sayangnya, akan saya lewatkan pada Ramadan kali ini adalah tarawih berjemaah di musala. Pasalnya, pekerjaan yang saya lakoni tak memungkinkan untuk menyempatkan diri salat tarawih berjemaah di musala/masjid sepenuh bulan Ramadan ini. Itu pun sudah terjadi beberapa tahun terakhir, bukan tahun ini saja. Tapi sebisa mungkin saya sempatkan beberapa hari menjalani ibadah yang hanya ada saat Ramadan itu.

Yang terpenting, Ramadan tahun ini bisa saya lalui dengan lancar, puasa yang penuh selama sebulan, selalu berbuat kebajikan, tak pernah lupa beramal, serta sering-sering berdoa agar diberi kemudahan dalam urusan apa pun.

Tak lupa saya ucapkan untuk umat Islam di seluruh Indonesia, juga di seluruh dunia: "Selamat menjalankan ibadah puasa."




6 Juni 2016

Jumat, 27 Mei 2016

Pindahan ke Rumah Kontrakan


Minggu, 22 Mei 2016. Hari itu, hari yang cukup nekat buat saya dan keluarga kecil saya pindah ke rumah kontrakan sekaligus menyatakan bahwa kami telah berpisah dari orang tua/mertua untuk tinggal sendiri dan membangun rumah tangga secara mandiri.

Sebuah keputusan yang cukup berat harus saya ambil dengan menimbang berbagai alasan, masukan, risiko, juga manfaat agar kami bisa menghadapi apa pun yang terjadi nanti. Saya tidak bisa menjelaskan secara detail apa saja yang menjadi alasan kami untuk pindah. Intinya, ketika kita sudah punya kehidupan rumah tangga sendiri, terlebih memiliki anak, sebaiknya memang sudah tidak tinggal bersama orang tua lagi demi menghindari atau paling tidak meminimalkan "dosa-dosa" kami terhadap orang tua ketika kami masih harus tinggal bersama.

Kurang-lebih satu minggu saya dan istri berkeliling kelapa dua untuk mencari hunian kontrakan yang minimal mendekati ideal. Kriteria "mendekati ideal" itu meliputi harga sewa yang masih terjangkau kantong saya, lingkungan yang bersahabat, sanitasi yang baik, dan perlindungan yang optimal dari hujan dan panas, biar uang yang kami keluarkan untuk membayar kontrakan tidak sia-sia.

Kenapa di rumah kontrakan? Kenapa tidak rumah sendiri? Banyak yang bertanya dan membahas soal itu. Sebagai buruh biasa, gaji saya selama sebulan belum bisa terkumpul untuk bisa membeli rumah idaman kami. Apalagi pencari nafkah di keluarga kami cuma saya, sebagai kepala bahtera. Tapi saya percaya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selama kita masih percaya dan selalu berdoa kepada Allah.



Rumah dengan harga "miring" sekarang pun jarang sekali yang aksesnya strategis. Sebagian besar berlokasi di luar Jakarta, bahkan di pelosok, yang letaknya tidak pernah diketahui sebelumnya.

Balik lagi ke soal kontrakan, kira-kira waktu yang kami habiskan dari mencari sampai akhirnya ketemu dan menghuni rumah kontrakan itu 2-3 minggu. Fisik dan psikis cukup terkuras.

Dengan pindahnya kami ke rumah kontrakan, tentu ada yang pro dan ada yang kontra. Orang yang pro beralasan, memang sebaiknya "misah" dari orang tua setelah berumah tangga agar bisa mandiri dan tidak banyak konflik. Sedangkan yang kontra mengatakan, daripada mengontrak, lebih baik beli rumah atau sementara tinggal di rumah orang tua supaya duit terkumpul untuk membeli rumah sendiri.


Saya menepikan argumen pihak yang kontra dengan banyak pertimbangan. Hidup berumah tangga dengan kondisi tinggal bersama orang tua/mertua tidak selamanya nyaman atau lebih baik. Banyak pertimbangan yang harus saya jadikan perisai demi keluarga saya. Mungkin terdengar idealistis, tapi ketika kita menghadapinya sehari-hari, itu bisa berubah menjadi realistis.


Saya mencoba menghadapi kemandirian saya dan keluarga dengan penuh perjuangan, kesabaran, dan ketakwaan. Saya percaya, Allah selalu membantu hamba-Nya yang berusaha, apalagi membantu kepala keluarga seperti saya yang berjuang melindungi dan menghidupi keluarga dengan keringat sendiri.

Semoga, langkah kami tinggal di rumah kontrakan menjadi jalan menuju rumah kami yang sebenarnya kelak.








Gambar di atas adalah kondisi rumah kontrakan yang baru kami huni, mulai dari teras hingga bagian dapur/kamar mandi. Sebenarnya ada 6 bagian, yakni teras, ruang tamu, ruang tidur, ruang lemari baju/semi dapur/tempat solat, dapur/kamar mandi, dan teras belakang.



27 Mei 2016

Sabtu, 30 April 2016

Ojek Online Gratis

Kendaraan umum berbasis online memang sedang menjadi tren saat ini, bahkan sudah populer sejak 1-2 tahun yang lalu. Sebagian masyarakat kota pun dipastikan sudah merasakan jasa transportasi berbasis aplikasi tersebut. Begitu pula saya.

Terlepas dari demo-demo yang menolak keberadaan transportasi berbasis online yang terjadi beberapa waktu lalu, sebagai warga komuter, saya turut merasakan sensasi menggunakan aplikasi kendaraan umum yang bisa diunduh di ponsel pintar ini untuk keperluan perjalanan menuju dan pulang dari bekerja. Apalagi kalau tarifnya gratis, he-he-he....

Ya, dalam pekan ini, saya sudah beberapa kali menggunakan transportasi berbasis aplikasi online, yaitu Grabbike. Dalam promonya, Grabbike memberi program bebas biaya perjalanan bagi penumpang untuk tujuan mana pun dengan batas maksimal Rp 50.000, mulai 18 April sampai 1 Mei 2016. Saya menggunakan transportasi ojek online ini untuk keperluan perjalanan ke kantor dan sebaliknya.

Jujur, promo tersebut sangat membantu saya dalam hal menghemat uang bulanan. Tapi tidak setiap hari saya menggunakannya. Terkadang saya selingi menggunakan kereta Commuter Line atau angkutan umum lain.


Bukan kali ini saya menggunakan transportasi online. Sebelumnya, tepatnya bulan lalu, saya pernah mencoba GrabCar, yaitu layanan kendaraan berbasis aplikasi jenis mobil pribadi. Saya gunakan jasa ini untuk bertamasya ke Kebun Binatang Ragunan bersama keluarga kecil saya. Dan terus terang, itu cukup membantu karena barang yang harus saya bawa, yakni troller anak, harus diangkut dengan mobil. Tidak memungkinkan jika diangkut dengan sepeda motor.


Tahun lalu saya juga sempat mencoba transportasi online lain, yaitu Go-Jek. Itu pun karena ada acara yang harus saya hadiri dan tidak memungkinkan untuk naik angkot mobil karena saya tidak tahu lokasi persisnya. Lagi-lagi ojek online ini sangat membantu, terlebih ada peta digitalnya sehingga tidak perlu tersasar. 

Keuntungan lain adalah ketika kita mendapat pengemudi yang ramah dan tahu medan jalan. Minusnya, berdasarkan pengalaman saya, ketika mendapat pengemudi yang mengeluh sepanjang jalan tentang kesulitan hidupnya, apalagi jika pembicaranya mengarah ke permintaan uang, meskipun secara implisit, padahal masa promo gratisnya masih berlaku.

Tapi itu saya anggap sebagai perbedaan karakter tiap manusia yang "indah". Dan betapa saya tahu kerasnya kehidupan di Ibu Kota untuk sekadar mencari sesuap nasi, segenggam uang.

Ya, transportasi berbasis online, seperti Grab, Go-Jek, dan Uber, bisa menjadi solusi alternatif berkendara bagi masyarakat yang ingin bepergian dan sedang enggan menggunakan kendaraan pribadi. Sebab, dengan menggunakan transportasi umum--bukan hanya yang berbasis online, tapi juga angkutan lain, seperti Transjakarta dan Commuter Line--paling tidak kita juga mengurangi kemacetan yang menjadi "konsumsi" masyarakat sehari-hari saat berkativitas di luar rumah.

Semoga pengalaman saya dan informasi lain yang saya tulis di atas berguna bagi Anda, para pembaca.


Jakarta, 30 April 2016.

Senin, 25 April 2016

Passion

Hmm... sebenarnya ini terlalu awal buatku menulis tentang apa yang ingin aku lakukan setelah tidak lagi bekerja di perusahaan tempatku bernaung. Bukan, bukan setelah aku pensiun. Itu terlalu lama bagiku. Aku ingin tidak berlama-lama menjadi karyawan yang setiap hari bersiap-siap berangkat menuju kantor, meninggalkan keluarga, terutama anak-istri, apalagi kehilangan suasana berbagi dengan keluarga.

Sebelum masa pensiunku datang, aku ingin tinggal di sebuah rumah sederhana, di sebuah desa yang hening, jauh dari hiruk-pikuk, jauh dari kegetiran, jauh dari rutinitas yang membuatku seperti berada di tempat yang tidak seharusnya.

Aku ingin bercocok tanam. Iya, bercocok tanam. Bulan aini aku mendapat ilmu lagi dalam hal tanam-menanam. Memang, ini bukan "passion" dasarku dalam hidup. Bukan berarti aku benar-benar memiliki "passion" dalam hal tertentu. Sebab, sampai saat ini aku masih mencari, apa sih yang sebenarnya aku ingin lakukan? Apa kegiatan yang membuatku nyaman, tenteram, juga teduh dalam menjalani hidup? Sampai sekarang aku belum menemukannya. Padahal usiaku sudah kepala 3. 

Sampai dalam beberapa hari ini aku mendapat ilmu tentang hidroponik, ya, aku seperti mendapat "wahyu" bahwa aku ingin menekuni kegiatan ini, yang tampaknya menarik, tidak hanya dari sisi aktivitasnya. Aku seperti menemukan "passion" itu. 

Tapi kadang aroma keraguan muncul begitu saja. Prediksi akan kebosanan ketika kegiatan itu menjadi rutinitasku menimbulkan kegundahan. Apakah aku akan konsisten menjalani itu. Sebab, seperti yang sudah-sudah, setelah aku menjalani setiap kegiatan yang baru, muncul kebosanan dan akhirnya aku berhenti di tengah jalan.

Bahkan pekerjaanku sehari-hari di kantor seperti saat ini. Meskipun aku sudah bertahun-tahun menjalani profesi editor bahasa, rasa jenuh sering muncul. Aku tetap bertahan di profesi ini lantaran alasan nafkah dan penghidupan. Setidaknya aku tidak menganggur.

Semula kukira pekerjaan editor ini adalah "passion" ku saat kuliah. Ternyata, meski sudah berjalan bertahun-tahun, tak ada rasa cinta yang tersemat di benak dan sukmaku terhadap profesi ini. Yang ada cuma lelah. Tapi aku tetap bersyukur. Cukup keluhanku itu ditelan mentah-mentah agar aku selalu melihat sisi positif dalam hidup ini.

Semoga "passion" baruku nanti bisa membuatku lebih menikmati hidup. Aamiin.

25 April 2016.