Senin, 02 Januari 2017

Awal 2017 yang Panas

Dua hari ini, sebenarnya sih sejak Sabtu, 31 Desember 2016, cuaca memang cerah, tapi juga terik yang teramat. Memasuki tahun baru 2017 pun suhu udara di Jakarta dan sekitarnya, menurut saya, sangat tidak bersahabat. Panas, terik, dan menguras keringat sekali.

Suhu panas itu pun tidak sebatas sampai senja tiba, melainkan berlanjut hingga malam hari, bahkan dini hari. Sampai-sampai tidur saya pun tidak sepulas hari-hari sebelumnya. Saking panasnya, broo....

Kalau ditilik dan diusut-usut, sebenarnya bulan ini sampai 2-3 bulan ke depan masih dalam perjalanan musim hujan. Malah, menurut perkiraan BMKG, pundak musim hujan jatuh pada Januari-Februari. Itu berarti hari ini, bulan ini, hujan sedang intens-intensnya turun ya?

Tapi kenapa awal tahun malah membikin saya bingung, panas nggak keruan. Tidur pun serasa berkegiatan berat, sederas-derasnya keluar keringat.

Kalau soal pemanasan global, itu sih saya tahu sejak dulu. Dan kalau memang dua hari ini imbas pemanasan global juga sah-sah saja. Memang begitu kenyataannya. Saya juga cuma heran, tidak seperti biasanya tahun baru diawali kondisi suhu yang ekstrem seperti ini. Sepanjang hari, semalaman, bahkan sampai keesokan harinya.

Tapi saya juga tidak tahu, apakah kondisi serupa terjadi di dataran tinggi, yang notabene suhunya selalu sejuk. Entah siang entah malam. Baik musim kemarau maupun musim hujan.

Yang jelas, semua harus disyukuri. Di Kutub Utara, cuaca seperti di Jakarta ini terbilang langka lho, bahkan mungkin tidak terjadi.

Meskipun saya menggemari hujan, sepanas apa pun cuaca di Indonesia pasti memberi manfaat bagi yang membutuhkan sinar matahari berlebih ini. Paling tidak, Tuhan tak pernah merugikan umat-Nya dari segala pemberiannya. Sebab, selalu ada keajaiban dan keindahan di balik itu semua.

Jakarta, 2 Januari 2017

Rabu, 30 November 2016

Adu Nasib dari Palmerah ke Warung Buncit

Sebenarnya saya enggak mau berkeluh kesah atau curhat tentang pekerjaan. Tapi keadaan mendesak saya. Bukan mau pamer atau menjelek-jelekkan salah satu pihak. Juga bukan ingin bersedih-ria untuk menarik simpati pembaca.

Ya, kehidupan yang berubah. Bukan hanya kehidupan saya, tapi juga kehidupan keluarga saya, anak-istri saya. Wajar kan jika seseorang tidak akan pernah puas atas apa yg sudah didapatkannya. Itu manusiawi. Bukan berarti tidak bersyukur.

Saya bersyukur memiliki pengalaman selama delapan tahun bekerja di dua perusahaan besar. Saya juga bersyukur bisa memiliki penghasilan untuk menafkahi diri dan keluarga saya. Tapi, dengan kondisi usia pengalaman dan jam terbang saya dalam pekerjaan itu, saya merasa harus ada yang berubah, baik dari sisi pendapatan maupun kualitas hidup saya dan keluarga.

Tak lama lagi saya akan meninggalkan tempat kerja saya yang sekarang. Tempat saya mendapatkan banyak ilmu, "pelatihan mental", dan atmosfer kerja yang memberi aneka warna tentang dunia edit-mengedit yang menghiasi pengalaman saya.

Di tempat kerja saya yang baru nanti, mungkin pekerjaannya, durasi kerjanya, serta tekanannya tidak jauh berbeda dengan suasana tempat kerja saya yang lama ini. Karena memang sama-sama bergerak di bidang jurnalistik/media massa.

Ketika ditawari teman untuk bekerja di tempat yang baru nanti, saya langsung mengiyakan, tanpa pikir panjang. Entah kenapa, semua itu berjalan begitu saja. Dulu saya pernah diberi tawaran serupa, tapi batal. Pikir saya, "Ya sudah, mungkin belum saatnya."

Kesabaran itu pun berbuah, saya kembali ditawari pekerjaan tersebut oleh teman saya itu dan "tampaknya" memang serius. Saya pun mengikuti semua tahapan sampai akhirnya selembar kertas berisi penjanjian kontrak saya tandatangani. Dan saya harus bersiap pula dengan segala konsekuensi.

Hidup di Ibu Kota itu keras, dan kita harus menghadapinya dengan keras juga.

Semoga saja di tempat baru nanti, kehidupan saya benar-benar berubah, baik dalam hal finansial maupun kualitas rumah tangga saya.


--Palmerah, 30 November 2016--

Rabu, 23 November 2016

Balada Ormas yang Bikin Gemas


Jujur saja, saya kurang tertarik terhadap dunia politik, apalagi perpolitikan di Indonesia, negara yang saya huni. Tapi, melihat karut-marutnya suasana politik itu, terutama berkaitan dengan hiruk-pikuk pemilihan kepala daerah di negeri ini, saya menjadi geregetan dan tak kuasa menahan pendapat untuk membungkam orang-orang yang mementingkan kelompoknya dengan beralaskan agama.

Bagaimana tidak geregetan, segelintir organisasi massa Islam seenaknya membawa agama untuk memaksakan kehendak ingin memenjarakan orang. Mending kalau cuma itu. Mereka juga menyisipkan kata-kata sarkastik, bahkan menyebutkan nama binatang, untuk menghina orang yang mereka anggap menista agama.

Saya, meskipun muslim, sangat mual melihat perilaku mereka. Apalagi mengatasnamakan agama dan TUHAN. Tidak sepantasnya seorang pemeluk Islam, yang setahu saya agama yang damai, bertindak dan berkelakuan seperti itu. Sangat tidak menyejukkan.

Saya memang sedari dulu tak menyukai satu ormas Islam yang satu ini--sebut saja FPI--terutama pemimpinnya. Mereka lebih banyak berlaku kasar dan ugal-ugalan ketimbang bersikap tegas tapi lembut, sebagaimana yang saya ketahui tentang sifat Nabi Muhammad terhadap sesama umat Tuhan.

Rekam jejak mereka pun tak ada yang mencerahkan. Justru sering membuat hati masyarakat cemas akan sikap mereka.

Kalau ingin membela agama, berdakwalah dengan cara yang positif dan persuasif. Bukan dengan memicu emosi dan bertindak arogan. Apalagi membuat suasana semakin panas dan tidak terkendali.

Soal ada "aktor" yang menunggangi atau mengendalikan mereka, itu hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Saya tidak mau mengira-ngira, atau bahkan menuduh. Dikendalikan atau tidak, saya pun tetap tidak hormat terhadap ormas tersebut, kecuali mereka mengubah sikap dan perilakunya.

Saya hanya merindukan kelompok masyarakat yang menghargai keberagaman dan tidak merugikan banyak pihak. Sebab, Indonesia lahir berkat orang-orang yang beraneka "rasa", bukan yang selalu melontarkan isu SARA.

Senin, 06 Juni 2016

Selamat Datang, Ramadan



Alhamdulillah, Ramadan telah menghampiri umat Islam di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Waktu terasa cepat sekali berlalu. Serasa baru beberapa bulan yang lalu umat Islam menjalankan ibadah puasa, kini Ramadan kembali datang dengan suasana yang tenang.

Untuk kedua kali, saya menjalankan ibadah puasa bersama istri dan anak, meskipun kedua belahan hati saya itu belum bisa sepenuhnya berpuasa. Istri yang masih menyusui dan anak yang belum genap 2 tahun. Tiap tahun pasti ada saja yang berbeda dalam Ramadan yang saya jalani. Dari berpuasa bersama istri, berpuasa bersama anak, sampai--tahun ini--berpuasa di tempat tinggal yang baru, yaitu kontrakan :).

Sayang, hari pertama puasa, saya tidak bisa berbuka di rumah, bahkan sampai hari keempat. Tapi itu tak menjadi alasan saya tidak bersemangat menjalankan ibadah di bulan yang penuh berkah ini.

Menjalankan puasa sebagai suami dan ayah tentu tidak ringan, terlebih tinggal terpisah dari orang tua/mertua, karena tidak ada lagi yang membantu mengasuh anak kami. Perasaan campur aduk menggenangi benak saya, pastinya, sampai 29 hari ke depan. Senang, kesal, geregetan, semua bakal menjadi satu. Apalagi punya anak yang masih aktif-aktifnya membuat lelah orang tua :).

Hal lain yang, sayangnya, akan saya lewatkan pada Ramadan kali ini adalah tarawih berjemaah di musala. Pasalnya, pekerjaan yang saya lakoni tak memungkinkan untuk menyempatkan diri salat tarawih berjemaah di musala/masjid sepenuh bulan Ramadan ini. Itu pun sudah terjadi beberapa tahun terakhir, bukan tahun ini saja. Tapi sebisa mungkin saya sempatkan beberapa hari menjalani ibadah yang hanya ada saat Ramadan itu.

Yang terpenting, Ramadan tahun ini bisa saya lalui dengan lancar, puasa yang penuh selama sebulan, selalu berbuat kebajikan, tak pernah lupa beramal, serta sering-sering berdoa agar diberi kemudahan dalam urusan apa pun.

Tak lupa saya ucapkan untuk umat Islam di seluruh Indonesia, juga di seluruh dunia: "Selamat menjalankan ibadah puasa."




6 Juni 2016